Sabtu, 24 Juli 2010

VALIDASI DALAM CLINICAL CHEMISTRY



 
Oleh : Bettia M Bermawi, dr., Sp.PK
PDS Patklin Jakarta
Presentasi PATELKI : 26 Juni 2010 (Seminar Nasional PATELKI 2010)

 
Pengertian
• Validasi adalah konfirmasi, dengan melakukan tindakan obyektif, bahwa suatu kebutuhan untuk tujuan tertentu atau aplikasi telah terpenuhi.
• Istilah VALIDASI dijumpai pada dokumen Akreditasi dan Guidelines : KALK, ISO, CLIA, CLSI

 
Lupakan sejenak tentang akreditasi, KARS, KALK, ISO…..
Apa sebenarnya yang mereka harapkan dari hasil lab ?


Lack of blanks between tests leads to false positive or inflated BAC results

 
Mengapa validasi diperlukan ?
• Jika hasil suatu tes tidak dapat dipercaya, maka tesmenjadi tidak berharga dan tidak akan digunakan.
• ISO 15189. 5.5.2. : Metode dan prosedur yang dipilih untuk penggunaan harus dievaluasi dan diketahui memberi hasil yang memuaskan, sebelum digunakan untuk pemeriksaan medik…


 
Ragam validasi dalam bidang kimia klinik
• Acuan : ISO 15189 :
• Validasi harus seluas yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dalam penerapan dan bidang penerapan yang ditetapkan
• Validasi prosedur & metoda pemeriksaan
• Validasi Klinis (Clinical Diagnostic)
• Validasi hasil

 
Apa yang anda harapkan untuk tes baru di lab?
• Akurat
• Reproducible
• Cepat
• Ketersediaan (reagen & kalibrator)
• Melewati uji pemantapan mutu
• ……..
• Bagaimana anda menguji karakter / performans tes?

 
Faktor kunci dalam seleksi dan validasi prosedur & metoda pemeriksaan
• Kegunaan klinis
• Analytical performans di laboratorium anda
• Beberapa syarat performans parameter harus ditetapkan dan terpenuhi sebelum metoda dapat digunakan
• Faktor ekonomi:
• Saat seleksi peralatan, perlu diperhatikan unsur penggunaan energi dan limbah
• Biaya bukan pertimbangan utama, tetapi lingkungan adalah salah satu pembatasan ekonomis.
• Peduli terhadap pelestarian lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja, performans dan kualitas, laboratorium harus memilih prosedur paling "cost-effective" sehingga laboratorium dapat menghasilkan pelayanan kualitas tinggi.

 
Validasi Prosedur
• ISO 15189. 5.5.2. : Laboratorium harus hanya menggunakan prosedur yang telah divalidasi untuk menegaskan bahwa prosedur pemeriksaan sesuai untuk penggunaan yang dimaksudkan. …
• Validasi prosedur merupakan kebutuhan penting dalam proses analitik.
• Maka laboratorium harus mempunyai tanggung jawab untuk menetapkan bahwa proses analitik telah dilakukan benar, atau hasil menunjukkan sesuai untuk kebutuhan (fitness for purpose).

 
Dokumentasi Validasi Prosedur / Metoda
• Deskripsi alat / kit tes / prosedur kerja.
• Spesifikasi rinci kebutuhan alat / kit tes.
• Tujuan validasi dan alasan menggunakan metoda tertentu, bukan metoda lain.
• Rincian metoda dapat meliputi :
-    Jenis sampel yang diuji
-    Tipe reagen dibandingkan dengan jumlah kebutuhan tes yang diperiksa
-    Jumlah operator alat / analis
• Risk assessment.

 
Validasi metoda dilakukan untuk menilai :
• Peralatan (termasuk alat yang ada)
• Tes baru
• Kit tes baru
• Reagen baru
• Modifikasi dari prosedur lama (kecuali CE marked –prosedur CE marked test tidak boleh diubah).
• Perubahan penggunaan alat (Contoh : dari alat analyzer menggunakan alat POCT)

 
Kapan validasi metoda dilakukan?
• Metoda baru
• Metode yang telah digunakan diganti untuk memperbaiki atau diperluas karena dijumpai masalah baru
• Penetapan metoda pada laboratorium berbeda, analis berbeda atau alat berbeda.
• Memperlihatkan kesesuaian dari 2 metoda pemeriksaan: baru dan standar.
• Jika laboratorium menggunakan 2 alat untuk 1 pemeriksaan (main & backup), harus ada agreement / "kesesuaian" dari performans tes kedua alat

 
Dokumentasi untuk validasi metoda
• Jenis alat
• Nomor lot reagen
• Nomor lot kalibrasi
• Waktu kalibrasi dan re-kalibrasi
• Prosedur preventive maintenance
• Perubahan metoda
• Tindakan koreksi

 
Metoda dengan lambang CE
• In-vitro Diagnostic Medical Devices Directive 98/79/EC diterapkan pada alat dan aksesoris yang digunakan dalam bidang diagnostik.
• Umumnya metodologi yang dibeli oleh laboratorium mempunyai standar CE sehingga untuk validasi data dianggap dapat menggunakan data yang tercantum dalam kemasan.

 
Validasi metoda dan prosedur pemeriksaan dengan lambang CE
Laboratorium harus mempertimbangkan :   
1. Apakah data validasi yang ada mencukupi kebutuhan atau membutuhkan validasi lanjut?
2. Jika data validasi yang ada cukup, apakah laboratorium mampu mencapai tingkat performans yang dicantumkan?

 
Apa yang dilakukan untukmenguji performans test?
Akurasi : apakah tes menghasilkan hasil benar?
Reproducibility/precision : Apakah hasil benar dihasilkan secara konsisten ?
Robustness : Apakah semua analis yang menjalankan metoda ini sesuai jadwal?
Nilai rujukan : apakah nilai rujukan populasi yang diberikan produsen sesuai dengan populasi lab kita?
Rencana kalibrasi : Apa yang direkomendasi produsen dan dapatkah kita lakukan?
Rencana QC : bagaimana kita mendeteksi error yang bermakna?

 
Validasi Metoda pada prosedur Non-CE marked
• Masih banyak tes menggunakan prosedur bukan CE marked atau "in-house".
• Diperlukan validasi metoda yang tepat dan didokumentasi
• Menetapkan performans analitik dan klinik (diagnostik) dari tes agar dapat diterapkan untuk kegunaannya.
• Uji verifikasi

 
Uji verifikasi
• Tujuan : untuk menetapkan analytical error pada tes, sehingga dapat mengenali perubahan yang tidak dapat diterima

 
Uji :
• Akurasi
-    Perbandingan metode tes : uji sensitivitas dan spesifisitas.
-    linearitas
• Presisi
-    Within-run (repeatability),
-    Between-run ireproducibility)
• Analytical Sensitivity (detection limits)
• Analytical specificity
-    interferensi & recovery

 
Pemantapanmutu Quality Assurance dan / QC internal harian adalah

 
Proses berkesinambungan yang meneguhkan verifikasi & validasi


              You need to be in touch

 
Error…
Dua jenis error utama! (sebenarnya ada tiga…)
• Random error : peningkatan pada standard deviasi (sd)
• Systematic error : shift pada mean
Data dasar untuk mean dan sd ditetapkan pada uji verifikasi. Program QC dapat memantau perubahan ini.
  • Yang ketiga adalah sporadic error : hal yang terjadi pada suatu sekwens pemeriksaan sampel pasien.
   QC tidak dapat mendeteksi error ini, tetapi dikenali dari pengalaman dan perbandingan delta check.


 
Total allowable error :….
• Total error adalah : Jumlah random error (sd) + systematic error
Jika total error dari metoda tes anda lebih besar dari
total (medically) allowable error, inilah bencana !
• Jadi Total error allowable (tEA)adalah …
-    Perbedaan hasil yang akan memicu tindakan medik
-    Jika %CV didapatkan di bawah regulasi CLIA untuk beberapa parameter kimia klinik

 
Pendekatan untuk validasi metoda
• Uji statistik :
-    Mean, sd, %CV
-    Sensitivity, specificity
-    Confidence intervals
-    ROC curve untuk cutoff determination
-    Agreement – kappa & Mc Nemar
• Menggunakan Method Decision Chart (Westgard)
• Menggunakan Six Sigma metrik : suatu tolok ukur universal untuk menguji berbagai performans. Skala 2 –6.

 
Westgard Method Decision Chart

 


  
Hambatan dalam melakukan validasi metoda
• Uji validasi metoda sulit diinterpretasi
• Data besar.
• Pengujian berulang.
• Perlu berbagai perhitungan statistik dan grafik untuk mendapatkan kesimpulan.
• Biaya.

 
Sebelummengeluarkan hasil pasien, laboratoriumharus menetapkan karakteristik performans tes.
• Accuracy
• Precision
• Reference and Reportable ranges
• Analytical sensitivity
• Analytic specificity
• Interfering substances
• Diagnostic (Clinical) Validity

 
Clinical (Diagnostic) Validation
Makna klinis dan kegunaan tes :
• Diagnosis penyakit atau beratnya penyakit (staging)
• Konfirmasi hasil dari tes lab lain atau diagnosis klinis
• Pemantauan dan penetapan perjalanan penyakit, prognosis atau resolusi (penyembuhan)

 
Clinical (Diagnostic) Validation…
• Membandingkan tes pada gold standard
-    Tes lain (kultur, EIA, FISH)
-    Gambaran klinik atau respons terapi
• Gunakan nilai PPV dan NPV
• Perhatikan variasi etnik dan geografi :
-    kasus DM banyak dijumpai di Manado
-    Kasus Ca Nasofaring pada etnis Cina
• Telusuri kepustakan uji klinis (publikasi jurnal, penelitian)

 
Validasi Hasil
Tujuan validasi hasil:
• Menghindari memberikan hasil tes yang tidak sesuai pada klinisi.
Apa yang biasa kita hadapi?
• Dengan banyak penggunaan alat otomatis, error yang paling sering terjadi adalah human error.
• Validasi sejumlah besar hasil tes dilakukan dengan inspeksi / pengamatan visual (mata).

 
Validasi Hasil Pemeriksaan
• Pada beberapa laboratorium, pengamatan ini terbatas pada hasil abnormal atau sangat abnormal (critical value).
• Hasil test disaring dengan informasi tes lain dan informasiklinis pasien (tetapi sering tidak ada…)
• Hasil yang :
-     "jika tertangkap mata" memberikan keraguan pada validator akan memicu tindakan seperti pengulangan atau konsultasi pada ahli patologi klinik.
-    Bila tidak ? …..

 
Pendekatan Total quality management dalambentuk tingkat validasi hasil
• Administratif:
-    No ID Pasien, tanggal lahir, jenis kelamin,
-    No ID sampel,
-    Tanggal dan waktu sampel
• Teknis,
-    Kalibrasi, Data quality-control harian, Usia reagen,
• Sampel,
-    Jumlah tes,
-    Jenis sampel,
-    Volume sampel
• Pasien
-    Plausibility of test results,
-    Hasil Ekstrim
-    Kemungkinan Carry over dari pasien sebelumnya
• Clinical validation
-    Tes lanjutan,
-    LDL-calculation check,
-    SOP, protokol

 
Dokumentasi validasi hasil
Dokumentasi dengan :
• Semua hasil pemeriksaan
• Semua hasil di luar rentang yang diharapkan
• Setiap perbedaan hasil yang dihasilkan oleh analisberbeda
• Setiap kegagalan / kesalahan dari alat / kit tes / media /prosedur / listrik atau komputer (hang)
• Log maintenance sesuai anjuran
• Hasil kalibrasi
• Pengamatan lain yang relevan
• Tindakan yang dilakukan pada hasil yang tidak diharapkan (incident report)

 
Jika anda telah lakukan semua dengan benar Seperti inilah perasaan anda …

 

Sabtu, 10 Juli 2010

Standar Profesi dan Perlindungan Hukum bagi Tenaga Analis Kesehatan






Oleh : Entuy Kurniawan, S.Si, MKM
Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan Indonesia (PATELKI)
Disampaikan pada Seminar Nasional : "Malpraktek dan Perlindungan Hukum bagi Tenaga Analis Kesehatan dan Validasi Hasil Pemeriksaan Laboratorium"
Di Jakarta 25 – 26 Juni 2010


Latar Belakang :
  • Perkembangan Teknologi Informasi
  • Persaingan meningkat
  • Tuntutan pemakai jasa yang semakin meningkat
  • Tuntutan perundang-undangan


Ciri – ciri profesi :
  • Ciri-ciri pengetahuan (intellectual character)
  • Diabdikan untuk kepentingan orang lain (mengutamakan pelayanan)
  • Bukan didasarkan pada keuntungan finansial
  • Adanya pengakuan dari otoritas yang berwenang
  • Kewenangan dalam praktek profesi
  • Adanya standar kualifikasi profesi
  • Tanggung jawab (diri sendiri, teman sejawat, masyarakat dan Tuhan) à
    kode etik
  • Didukung oleh adanya organisasi (association) profesi
  • Mitra organisasi sejenis di Luar Negeri ( Puspronakes LN)


Profesi Kesehatan :
  • Profesi kesehatan adalah pekerjaan yang memenuhi kriteria :
    • Diberikan kewenangan untuk melaksanakan pelayanan kepada klien maupun tenaga kesehatan lain
    • Mempunyai pendidikan formal untuk memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan
    • Melaksanakan pelayanan melalui kode etik dan standar pelayanan yang diakui masyarakat


Patelki Organisasi Profesi Analis Kesehatan
"Organisasi ini adalah organisasi profesi analis kesehatan yang bersifat independent, professional dan sosial kemasyarakatan".
(AD PATELKI Bab II Pasal 4)

Siapa Anggota PATELKI
Anggota yang mempunyai latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Analis Kesehatan (SMAK) atau Akademi Analis Kesehatan (AAK) atau Akademi Analis Medis (AAM) atau Pendidikan Ahli Madya Analis Kesehatan (PAMAK) atau Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan Program Studi Analis Kesehatan atau Teknologi Laboratorium Kesehatan yang menyatakan diri sebagai anggota.
(ART PATELKI Bab II Pasal 7)


Wilayah dan Cabang PATELKI
  • MUNAS I    : 10 wil
  • MUNAS II    : 20 wil dan 2 Cab
  • MUNAS III    : 21 wil dan 20 Cab
  • April 2002    : 25 wil dan 60 Cab
  • Mei 2006    : 26 wil dan 154 Cab
  • Okt 2009     : 28 wil dan 160 Cab


Mitra Organisasi PATELKI
  • PATELKI merupakan keanggotaan dari :
    • ASEAN Association of Clinical Laboratory Sciences (AACLS)
    • ASIAN Association of Medical Laboratory Sciences (AAMLS)
  • Mitra Organisasi LN : JAMT (Jepang), KAMT (Korea), PAMET (Philipina), MIMLS (Malaysia), AMTT (Thailand), SIMLS (Singapore), BAMLS (Brunai Darussalam)
  • Mitra Organisasi DN : PDS Patklin, HKKI, ILKI, FOPKI

Visi PATELKI
Menjadi Organisasi profesi analis kesehatan yang mandiri, professional, peduli serta aktif dalam peningkatan mutu pelayanan laboratorium kesehatan bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat

Misi PATELKI
  • Meningkatkan kekuatan kepemimpinan PATELKI dalam mewujudkan organisasi profesi yang mandiri, profesional, dan berwibawa dengan jejaring yang kuat baik di dalam maupun luar negeri
  • Meningkatkan kemampuan tenaga analis kesehatan sebagai tenaga profesional serta berdaya saing internasional
  • Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam meningkatkan mutu hasil dan pelayanan laboratorium kesehatan
  • Pengembangan sistem remunerasi dan jenjang karir profesional yang didukung oleh sistem pendidikan berkelanjutan yang kuat





Peran PATELKI (AD Bab IV Pasal 6)
  • Pembina dan pengembang dalam peningkatan mutu pendidikan dan pelayanan, serta IPTEK laboratorium kesehatan
  • Pelaksana proses sertifikasi profesi dan memfasilitasi registrasi dan lisensi
  • Penata kehidupan keprofesionalan, pelayanan dan perlindungan hukum, serta hubungan masyarakat dan kerjasama
  • Fasilitator dalam peningkatan kesejahteraan anggota, pengembangan karir dan sistem penghargaan profesi


Fungsi PATELKI
  • Wadah pembinaan dan pengembangan anggota sesuai dengan tujuan organisasi
  • Wadah pembinaan dan pengembangan mutu profesi
  • Wadah untuk menata kehidupan keprofesionalan serta peningkatan kesejahteraan anggota
  • Sarana komunikasi dan kerjasama antar anggota dan antar anggota organisasi lainnya


Tujuan PATELKI
  • Menghimpun seluruh anggota untuk mempersatukan diri dalam meningkatkan peran serta secara aktif, terarah dan terpadu.
  • Mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang teknologi laboratorium kesehatan baik secara nasional, regional maupun internasional.
  • Meningkatkan mutu pendidikan dan pelayanan laboratorium kesehatan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
  • Memfasilitasi dan memberikan perlindungan hukum bagi anggota dalam menjalankan praktek profesinya





Apa manfaat PATELKI
Mendapatkan Pembinaan, Perlindungan dan Pembelaan Organisasi (AD Bab VII Pasal 9 ayat 2)          Perlindungan Hukum dan Profesi

Perlindungan Hukum
Perlindungan Hukum terhadap tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pimpinan unit kerja, pasien, keluarga pasien, masyarakat, birokrasi, dan/atau pihak lain.

Perlindungan Profesi
Perlindungan profesi terhadap pemutusan hubungan kerja yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam menyampaikan pandangan, pelecehan terhadap profesi, dan pembatasan atau pelarangan lain yang dapat menghambat dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya.

Regulasi dan Perlindungan Hukum
  • Tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan dan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya. (UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009, Pasal 27 ayat (1))
  • Perlindungan hukum diberikan kepada tenaga kesehatan yang melakukan tugasnya sesuai dengan standar profesi tenaga kesehatan. (PP No. 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan Pasal 24 : 1)
  • Hak mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya (SE Dirjen pelayanan Medik No. YM.02.04.3.5.2504 tertanggal 10 Juni 1997)


Standar Profesi
  • Kriteria kemampuan professional (knowledge, skill, attitude) minimal yang harus dikuasai agar dapat menjalankan kegiatan profesionalnya dan memberikan layanan kepada masyarakat.
  • Sebagai pedoman bagi anggota profesi dalam melaksanakan tugas profesionalnya
  • Dikukuhkan melalui peraturan ataupun ketetapan pemerintah


Undang – undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
  • Tenaga kesehatan harus memiliki kualifikasi minimum (Pasal 22 : 1)
  • Kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki (Pasal 23 : 2)
  • Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 harus memenuhi ketentuan kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan, dan standar prosedur operasional (Pasal 24 : 1)
  • Ketentuan mengenai kode etik dan standar profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh ORGANISASI PROFESI. (Pasal 24 : 2)


PP No. 32 Tahun 1996
  • Setiap tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi tenaga kesehatan (Pasal 21 : 1)
  • Standar profesi tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh menteri (Pasal 21 : 2)
  • Melakukan upaya kesehatan tidak sesuai standar profesi …. dipidana denda paling banyak Rp. 10.000.000,00 (Pasal 35)


Standar Profesi Analis Kesehatan
  • Dasar Hukum : Kepmenkes RI No : 370/Menkes/SK/III/2007
  • Merupakan dasar kewenangan bagi seorang tenaga Analis Kesehatan dalam melaksanakan pekerjaan profesionalnya di Laboratorium Kesehatan
  • Acuan standar kompetensi yang digunakan dalam standar pendidikan, pelayanan, uji kompetensi


Tugas Pokok Analis Kesehatan
Melaksanakan pelayanan laboratorium kesehatan meliputi bidang hematologi, kimia klinik, mikrobiologi, imunologi-serologi, toksikologi, kimia lingkungan, patologi anatomi, biologi dan fisika

Fungsi Analis Kesehatan
  • Mengembangkan prosedur untuk mengambil dan memproses spesimen
  • Melaksanakan uji analitik terhadap reagen dan spesimen
  • Mengoperasikan dan memelihara peralatan/ instrumen laboratorium
  • Mengevaluasi data laboratorium
  • Mengevaluasi teknik, instrumen, dan prosedur baru laboratorium secara efektif dan efisien
  • Merencanakan, mengatur, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan laboratorium
  • Membimbing dan membina tenaga kesehatan lain dalam bidang teknik kelaboratoriuman
  • Merancang dan melaksanakan penelitian dalam bidang laboratorium kesehatan


Standar Kompetensi
  • Menguasai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi di laboratorium kesehatan
  • Mampu merencanakan/merancang proses yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsinya di laboratorium kesehatan sesuai jenjangnya
  • Memiliki keterampilan untuk melaksanakan proses teknis operasional pelayanan laboratorium, yaitu
  • Keterampilan pengambilan dan penanganan spesimen
  • Keterampilan melaksanakan prosedur laboratorium, metode pengujian dan pemakaian alat dengan benar
  • Keterampilan melakukan perawatan dan pemeliharaan alat, kalibrasi dan penanganan masalah yang berkaitan dengan uji yang dilakukan
  • Keterampilan melaksanakan uji kualitas media dan reagensia
  • Mampu memberikan penilaian analitis terhadap hasil uji laboratorium
  • Memiliki pengetahuan untuk melaksanakan kebijakan pengendalian mutu dan prosedur laboratorium

  • Memiliki kewaspadaan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi hasil uji laboratorium

Standar Kompetensi Menurut Jenjang Pendidikan


NO
KOMPETENSI
JENJANG
SMAK
DIII
SI
1.
MENGUASAI ILMU PENGETAHUAN
1.1. Hematologi & Transfusi darah
1.2. Kimia Klinik
1.3. Serologi-Imunologi
1.4. Mikrobiologi
1.5. Toksikologi
-
1.6. Patologi Anatomi
-
1.7. Biologi Molekuler
-
1.8. Virologi
-
1.9. Kesehatan Lingkungan
1.10. Komputer
1.11. Manajemen
-
2.
MAMPU MEMBUAT PERENCANAAN/MERANCANG PROSES
2.1. Alur kerja proses pemeriksaan di laboratorium
-
2.2. Alur keselamatan kerja di laboratorium
-
2.3. Menyusun prosedur baku di laboratorium
-
2.4. Menyusun prosedur cara ukur keberhasilan proses
-
-
2.5. Menyusun program pemantapan mutu internal
-
-
2.6. Menyusun program pemantapan mutu eksternal
-
-
2.7. Merancang upaya keselamatan kerja di laboratorium
-
-
3.
MAMPU MELAKSANAKAN PROSES TEKNIS OPERASIONAL
3.1. Mengambil spesimen
3.2. Menilai kualitas spesimen
3.3. Menangani spesimen (labeling, penyimpanan, pengiriman)
3.4. Mempersiapkan bahan/reagensia
3.5. Memilih reagen & metoda analisa
-

3.6. Mempersiapkan alat
3.7. Memilih/menentukan alat
-
3.8. Memeliharan alat
3.9. Mengkalibrasi alat
-
3.10. Menguji kelaikan alat
-
3.11. Mengerjakan prosedur analisa bidang :
a. Hematologi sederhana
-
b. Hematologi khusus
-
c. Kimia klinik
-
d. Serologi-Imunologi sederhana
-
e. Serologi-Imunologi komplek
f. Mikrobiologi sederhana
g. Mikrobiologi khusus
-
h. Toksikologi
-
I . Patologi Anatomi
-
j. Biologi Molekuler
-
-
k. Virologi (riset)
-
3.12. Mengerjakan prosedur dalam pemantapan mutu
3.13. Membuat laporan administrasi
4.
MAMPU MEMBERIKAN PENILAIAN (JUDGMENT)
4.1. Mendeteksi secara dini keadaan spesimen yang berubah
4.2. Mendeteksi secara dini perubahan kondisi alat/reagen/kondisi analisa
4.3. Mendeteksi secara dini bila muncul penyimpangan dalam proses teknis operasional
4.4. Menilai validitas rangkaian analisa atau hasilnya
4.5. Menilai normal tidaknya hasil analisa untuk dikonsulkan kepada yang berwenang
4.6. Menilai layak tidaknya hasil proses pemantapan mutu internal
-
4.7. Menilai layak tidaknya hasil proses pemantapan mutu eksternal
-
-
4.8. Mendeteksi secara dini terganggunya keamanan lingkungan kerja
-
5.
KEMAMPUAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
5.1. Perlunya koreksi terhadap proses/alat/spesimen/ reagensia
-
5.2. Perlunya koreksi terhadap proses pemantapan mutu internal
-
5.3. Perlunya koreksi terhadap proses pemantapan mutu eksternal
-
-




Peranan PATELKI

  • "Komitmen Organisasi" (MUNAS VI PATELKI)
    • Visi dan Misi PATELKI
    • AD/ART (Peran dan Fungsi PATELKI dalam perlindungan hukum)

  • Struktur Organisasi PATELKI :
    • Dept. Hukum dan Advokasi
    • Majelis Kehormatan Etik Profesi (MKEK)
    • Penanganan serta pendampingan kasus yang dihadapi anggota
    • Advokasi dan pertimbangan profesi
  • Call Centre Pengaduan Anggota PATELKI
  • Perumusan SIK Analis Kesehatan :
  • Standar kewenangan
  • Lisensi (Izin melakukan praktek profesi)
  • Pengembangan standar
  • Standar profesi (Permenkes),
  • Standar pelayanan (Permenkes/KepDirYanmed)
  • acuan dalam Penyusunan SOP
  • Sosialisasi melalui kegiatan ilmiah dan media komunikasi & informasi organisasi